Memenuhi Panggilan Jiwa dengan Seni Komunikasi Empati dan Disiplin Positif

Opini28 Dilihat

Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd.

(Guru Besar – Ketua Senat UIN STS Jambi)

Rangkumnews.com –

A. Pendahuluan: Memotret Realitas Komunikasi Pendidikan yang Buruk

​Wajah pendidikan kita belakangan ini kian buram. Data dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) tahun 2024 menunjukkan peningkatan kasus kekerasan di sekolah sebesar 15% dibanding tahun sebelumnya, di mana 27% di antaranya melibatkan kriminalisasi terhadap guru, pada tahun 2025 meningkat menjadi 60%. Di Jambi, realitas ini tampak nyata dan mengkhawatirkan. Kita menyaksikan kasus seorang guru di Muaro Jambi yang menjadi tersangka akibat penegakan disiplin, pengeroyokan guru di SMK Berbak Tanjung Jabung Timur, hingga rentetan konflik di Kabupaten Tebo yang mencoreng marwah institusi pendidikan.

​Data akurat menunjukkan gejolak di SMAN 3 Tebo, di mana ratusan siswa melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran menuntut pengunduran diri Kepala Sekolah akibat mosi tidak percaya terkait transparansi dana OSIS dan pembangunan masjid. Sementara itu, di SMKN 1 Tebo, tekanan pengawasan eksternal kepada pihak Kejaksaan Negeri terkait pengelolaan Dana BOS menciptakan atmosfer ketegangan yang luar biasa bagi pimpinan sekolah. Fenomena mundurnya para Kepala Sekolah di Tebo bukan sekadar masalah administrasi, melainkan cermin runtuhnya komunikasi antara pemangku kebijakan, guru, siswa, dan masyarakat. Dari data yang terungkap, 55% konflik dan kekerasan ini, berada di sekolah umum, 45% berada disekolah agama termasuk pesantren.

​Fenomena ini mengindikasikan bahwa komunikasi pendidikan sedang dalam kondisi buruk. Ketegangan sering kali dipicu oleh hilangnya ruang dialog yang jujur. Secara teologis, Allah SWT telah mengingatkan pentingnya validasi informasi (tabayyun) untuk mencegah konflik yang merusak:

​”Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

​B. Konsep komunikasi: Perspektif Psikologis, Filosofis dan Teknologi Informaai

Komunikasi bukan sekadar transmisi pesan teknis. Secara psikologis, komunikasi adalah jembatan emosional. Daniel Goleman (2022) dalam bukunya Emotional Intelligence menekankan bahwa tanpa kecerdasan emosional, pesan edukatif akan ditolak oleh sistem pertahanan psikis siswa. Komunikasi yang gagal akan melahirkan resistensi, bukan pemahaman.

​Secara filosofis, komunikasi adalah upaya mencari titik temu (common interest). Namun, di era teknologi informasi yang serba instan, tantangan ini kian berat. Castells (2023) dalam The Power of Identity in the Network Society menjelaskan bahwa masyarakat digital cenderung terjebak dalam “ruang tanpa waktu” yang membuat komunikasi menjadi dangkal dan rawan distorsi. Di media sosial, sebuah teguran guru bisa dengan cepat dipelintir menjadi isu “penganiayaan” jika tidak dikelola dengan komunikasi yang empatik.

​Dalam khazanah klasik, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengajarkan adab berbicara: “Hendaklah pembicaraanmu bertujuan untuk menampakkan kebenaran, bukan memenangkan ego.” Rasulullah SAW pun bersabda dalam sebuah hadis sahih: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari & Muslim).

C. Panggilan Jiwa Pendidikan

​Menjadi pendidik adalah sebuah calling (panggilan jiwa), bukan sekadar mata pencaharian. Parker J. Palmer (2021) dalam bukunya The Courage to Teach menegaskan bahwa guru yang baik tidak hanya mengajar dengan teknik, tetapi dengan identitas dan integritasnya. Ketika seorang guru merasa terpanggil jiwanya, ia akan mampu melihat siswa melampaui perilaku nakalnya dan tetap konsisten dalam jalur pengabdian meskipun diterjang badai fitnah seperti kasus di Tebo atau Muaro Jambi. Panggilan jiwa ini selaras dengan perintah untuk menyebarkan ilmu dengan penuh kasih sayang. Allah SWT berfirman:

​”Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu…” (QS. Ali ‘Imran: 159).

D. Komunikasi Empati Pendidikan: Jiwa dan Seni

​Empati adalah ruh dari komunikasi pendidikan. Berdasarkan penelitian Hattie (2023) dalam jurnal bereputasi Review of Educational Research (Scopus Q1), hubungan antara guru dan siswa yang berbasis empati memiliki dampak signifikan (high effect size) terhadap capaian kognitif siswa. Seni komunikasi ini menuntut guru untuk mendengar lebih banyak daripada berbicara. Hal ini disebut dalam Al-Qur’an sebagai Qaulan Layyina atau perkataan yang lemah lembut (QS. Thaha: 44).

​Imam Az-Zarnuji dalam kitab klasik Ta’limul Muta’allim menekankan bahwa seorang guru harus memiliki kasih sayang (syafaqah) layaknya orang tua kepada anaknya. Senada dengan itu, Zheng et al. (2025) dalam Global Education Review (Scopus Q1) menyatakan bahwa komunikasi empatik mampu mereduksi konflik di sekolah hingga 40%. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala hal” (HR. Bukhari).

E. Kecerdasan Emosional Goleman: Perspektif Komunikasi Pendidikan

​Tragedi kemanusiaan di dunia pendidikan kita seringkali berujung fatal. Daniel Goleman (2022) dalam bukunya mengisahkan sebuah tragedi sosiopsikologis yang sangat relevan: seorang siswa cerdas bernama Jason H., yang menikam guru fisika kesayangannya, David Pologruto, dengan pisau dapur. Mengapa? Hanya karena guru tersebut memberikan nilai yang menurut Jason akan menghalangi impiannya masuk sekolah kedokteran. Jason mengalami apa yang disebut Goleman sebagai “Emotional Hijacking” (pembajakan emosi), di mana amigdala mengambil alih rasionalitas.

​Kisah Jason adalah cermin bagi tragedi di Indonesia; siswa yang membunuh gurunya di Sampang karena tidak terima ditegur, guru yang saling menghilangkan nyawa, hingga kasus pembunuhan kepala sekolah di Hulu Sungai Tengah. Tragedi ini adalah puncak dari kegagalan komunikasi yang berakar pada rendahnya kecerdasan emosional (EQ). Goleman merumuskan 5 dimensi kecerdasan emosional yang krusial dalam komunikasi pendidikan:

1. ​Kesadaran Diri (Self-Awareness): Guru harus mampu mengenali emosinya saat menghadapi siswa yang provokatif.

2. Pengaturan Diri (Self-Regulation): Kemampuan mengendalikan impuls negatif agar tidak “meledak” saat menghadapi tekanan massa atau hukum.

3. ​Motivasi Diri: Keinginan untuk mengajar demi ibadah dan transformasi bangsa.

4. Empati: Kemampuan membaca isyarat non-verbal dan perasaan siswa maupun kolega.

5. ​Keterampilan Sosial: Seni mengelola emosi orang lain untuk memediasi konflik secara damai.

​Ketidakhadiran dimensi ini melahirkan perilaku destruktif. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun yang mampu mengendalikan dirinya saat marah” (HR. Bukhari & Muslim).

F. Disiplin Positif: Perspektif Komunikasi Pendidikan

​Kriminalisasi guru terjadi karena pergeseran paradigma tentang “disiplin”. Disiplin positif bukanlah hukuman fisik (punishment), melainkan pengajaran tanggung jawab. Jane Nelsen (2021) dalam Positive Discipline in the Classroom menjelaskan bahwa disiplin harus bersifat kind and firm (lembut namun tegas).

​Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi, terdapat larangan keras berlaku kasar. Hal ini diperkuat oleh hadis Nabi SAW: “Ajarilah, mudahkanlah, dan janganlah mempersulit. Jika kalian marah, maka diamlah” (HR. Ahmad). Disiplin dalam Islam adalah proses pembentukan adab, bukan penghancuran martabat manusia.

G. Penutup

​Buruknya komunikasi pendidikan hari ini adalah tantangan yang harus dijawab dengan kembalinya para pendidik kepada panggilan jiwanya. Dengan memadukan kecerdasan emosional Goleman, transparansi seperti yang dituntut di Tebo, dan komunikasi empatik sebagai ruh, maka disiplin positif akan tegak tanpa perlu ada guru yang terancam pidana. Pendidikan adalah jalan cahaya, dan cahaya hanya bisa dihantarkan melalui lisan yang jujur dan hati yang empati.

​Referensi:
1. Al-Ghazali, Imam. (Klasik). Ihya Ulumuddin.
2. Al-Zarnuji, Imam. (Klasik). Ta’lim al-Muta’allim.
3. Castells, Manuel. (2023). The Power of Identity in the Network Society. Oxford: Wiley-Blackwell.
4. Goleman, Daniel. (2022). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.
5. Hattie, John. (2023). “Teacher-Student Relationships and Academic Success”. Review of Educational Research.
6. ​Ibn Hajar al-Asqalani. (Klasik). Bulughul Maram.
7. ​Kim, J. (2024). “Digital Transformation and Educational Conflict”. Journal of Computer-Mediated Communication.
8. Nawawi, Imam. (Klasik). Riyadhus Shalihin.
9. ​Nelsen, Jane. (2021). Positive Discipline in the Classroom. New York: Three Rivers Press.
10. ​Palmer, Parker J. (2021). The Courage to Teach. San Francisco: Jossey-Bass.
11. Sahlberg, P. (2022). Finnish Lessons 3.0. New York: Teachers College Press.
12. Zheng, X. (2025). “The Role of Empathic Communication in Reducing Conflict in Schools”. Global Education Review.
​(red)