Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd.
(Guru Besar UIN STS Jambi)
Rangkumnews.com –
A. Pendahuluan
Hati yang mempesona (the enchanting heart) bukanlah metafora puitis, melainkan sebuah kondisi ontologis di mana eksistensi spiritual selaras dengan perilaku lahiriyah. Hati adalah pusat kendali (central of excellence) manusia. Namun, realitas kontemporer menunjukkan fenomena “kekosongan jiwa” di tengah hiruk-pikuk materi. Mengapa hati tak lagi mempesona? Dalam perspektif sufistik yang dirumuskan oleh Imam Al-Ghazali (11), hati diklasifikasikan menjadi tiga: qalb al-shahih (sehat), qalb al-maridh (sakit), dan qalb al-mayyit (mati).
Kondisi hati yang sakit dan mati menyebabkan seseorang mengalami de-humanisasi spiritual. Ketika cahaya itu padam, ruhiyah seolah keluar dari jasad meski raga masih beraktivitas. Fenomena ini mengingatkan kita pada rintihan Maryam AS: “Ya laitanii mittu qabla hadza wa kuntu nasya’an mansiyya” (Duhai, seandainya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan) (QS. Maryam: 23). Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya, adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati” (HR. Bukhari). Tanpa koneksi spiritual, manusia hanyalah jasad tanpa esensi.
B. Karakteristik Hati (Dhamir) sebagai Cahaya: Posisi Ilahiyah, Ruhiyah, dan Aqliyah
Hati atau dhamir adalah lokus cahaya Tuhan (nur ilahiyah). Secara epistemologis, hati menempati posisi sentral yang menghubungkan dimensi aqliyah (intelektual) dan ruhiyah (spiritual). Jika akal berfungsi untuk memproses data empiris, maka hati berfungsi memvalidasi kebenaran hakiki. Hati yang mempesona memiliki daya pancar (radiance) yang menuntun akal agar tidak tersesat dalam kesombongan intelektual.
Imam Al-Qusyairi (14) menegaskan bahwa hati adalah tempat ma’rifatullah. Jika hati bersih, ia akan memancarkan sifat-sifat Tuhan seperti kasih sayang. Pendapat ini diperkuat oleh Steve Taylor (17) dalam The Leap, yang menyatakan bahwa kesadaran spiritual tingkat tinggi mengubah cara manusia memandang dunia dari sekadar objek menjadi subjek yang suci. Allah berfirman: “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus…” (QS. An-Nur: 35). Ayat ini mengisyaratkan bahwa hati manusia adalah wadah bagi cahaya-Nya.
C. Qalbin Salim vs Ruhiyah: Bagaimana Kecerdasan dan Nafsul Mutmainnah
Qalbin Salim adalah hati yang selamat, sebuah hati yang terbebas dari belenggu syirik dan hasad. Integrasi antara Qalbin Salim dan kekuatan ruhiyah akan melahirkan nafsul mutmainnah (jiwa yang tenang). Kecerdasan spiritual (SQ) dalam konteks ini adalah ketundukan total yang melahirkan kedamaian.
Dalam Al-Hikam, Ibnu Atha’illah (16) mengingatkan bahwa hati tidak akan bersinar selama bayangan dunia masih melekat pada cerminnya. Senada dengan itu, pakar psikologi positif Martin Seligman (15) menekankan bahwa well-being yang sejati (eudaimonia) hanya tercapai ketika individu memiliki makna hidup yang melampaui kepentingan pribadi. Allah berfirman: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya” (QS. Al-Fajr: 27-28). Hadis Nabi pun menegaskan: “Kekayaan yang hakiki bukanlah banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa (ghina an-nafs)” (HR. Bukhari & Muslim).
D. Mengapa Ruh Keluar dari Jasad Manusia: Padahal Dia Masih Hidup
Fenomena keluarnya ruh dari jasad manusia hidup merupakan metafora atas hilangnya kesadaran Ilahiyah. Secara biologis manusia hidup, namun secara esensial telah mati. Hal ini terjadi akibat dominasi nafsu ammarah yang mengisolasi hati dari asupan wahyu. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (13) menjelaskan bahwa hati yang mati tidak lagi merasakan perihnya dosa, sebagaimana tubuh yang mati tidak merasakan sayatan pisau.
Pakar sosiologi David Root (10) menyebut kondisi ini sebagai spiritual alienation, di mana manusia merasa terasing dari jati dirinya sendiri. Rasulullah SAW memperingatkan dalam hadisnya: “Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan tertoreh setitik noda hitam di hatinya…” (HR. Tirmidzi). Jika noda ini menutup seluruh hati, terjadilah kegelapan total. Hal ini sejalan dengan pandangan Brene Brown (2) yang menyatakan bahwa tanpa koneksi hati, manusia akan kehilangan arah dan keberanian untuk hidup bermakna.
E. Kembalikan Ruhiyah ke Maqamnya: Falya’budu Rabbaha
Mengembalikan ruhiyah ke maqam-nya adalah jalan untuk mengembalikan pesona hati melalui tazkiyatun nafs. Perintah “Falya’budu Rabba hadzal bait” (QS. Quraisy: 3) adalah panggilan untuk menempatkan Allah sebagai pusat orbit kehidupan. Ketika Allah menjadi pusat, maka segala urusan duniawi akan berputar mengelilingi nilai-nilai ketuhanan.
Imam An-Nawawi (12) dalam Riyadhus Shalihin menekankan pentingnya niat sebagai cara mengikat ruh agar tetap dalam rida-Nya. Richard Rohr (9) menyatakan bahwa untuk menemukan kembali diri yang hilang, manusia harus melepaskan ego yang palsu. Transformasi ini mengharuskan manusia untuk melakukan ibadah sebagai kebutuhan nutrisi bagi ruh. Sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28). Dengan zikir, ruh yang sempat “keluar” akan kembali menempati jasad dan menghidupkan pesona batiniah.
F. Penutup
Hati yang mempesona adalah aset paling berharga. Kehilangan pesona hati berarti kehilangan kompas kehidupan. Melalui integrasi kearifan kitab kuning dan sains modern, kita memahami bahwa kesehatan hati memerlukan perawatan konsisten. Mari kita pastikan bahwa hati kita tetap menjadi cermin yang bersih, sehingga cahaya Tuhan dapat terpantul darinya. Jangan sampai kita menjadi sosok jasad yang hidup namun ruhiyahnya telah lama pergi. Kembalikan ruh ke singgasananya, dan biarkan hati kembali mempesona.
Referensi:
1. Al-Ghazali, Imam. Ihya’ Ulumuddin. Mesir: Darul Ma’arif.
2. Al-Haitami, Ibnu Hajar. Az-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba’ir. Beirut: Dar al-Fikr.
3. Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. Ighasatul Lahfan min Mashayidish Shaitan. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah.
4. Al-Qusyairi, Imam. Risalah al-Qusyairiyyah. Kairo: Dar al-Ma’arif.
5. An-Nawawi, Imam. Riyadhus Shalihin. Beirut: Muassasah al-Risalah.
6. Ash-Shofuri, Syekh. Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafais. Kairo: Al-Maktabah al-Taufiqiyyah.
7. Brown, B. (2023). Atlas of the Heart: Mapping Meaningful Connection. Random House.
8. Frankl, V. E. (2021). Man’s Search for Meaning (Updated Ed.). Beacon Press.
9. Haidt, J. (2024). The Anxious Generation: How the Great Rewiring of Childhood Is Causing an Epidemic of Mental Illness. Penguin Press.
10. Ibnu Atha’illah, As-Sakandari. Al-Hikam. Surabaya: Al-Hidayah.
11. Koenig, H. G. (2023). Handbook of Religion and Health (3rd Ed.). Oxford University Press.
12. Northouse, P. G. (2022). Leadership: Theory and Practice. Sage Publications.
13. Palmer, P. J. (2021). A Hidden Wholeness: The Journey Toward an Undivided Life. Jossey-Bass.
14. Rohr, R. (2022). The Universal Christ: How a Forgotten Reality Can Change Everything We See. Convergent Books.
15. Root, D. (2023). Spiritual Alienation in the Modern Age. Academic Press.
16. Seligman, M. E. P. (2021). Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness. Atria Books.
17. Taylor, S. (2021). The Leap: The Psychology of Spiritual Awakening. Eckhart Tolle Editions.
(red)
