Rangkumnews.com, Jambi – Adu jotos yang melibatkan seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra dengan siswanya hingga video yang memuat aksi mereka viral di media sosial, memasuki babak baru. Sang guru, Agus Saputra melaporkan adu jotos itu ke Polda Jambi sebagai penganiayaan.
Sebelumnya Pihak Polres Tanjabtim bersama disdik Sempat melakukan Media antara Siswa dan guru tersebut,media yang berlangsung pada Kamis (15/01/2026) berlangsung di ruang guru di hadiri unsur kepolisian ,TNI, Kejaksaan serta perwakilan dinas Pendidikan Provinsi Jambi.
Namun di ketahui dalam mediasi tersebut Agus ( guru SMK 3 Tanjabtim) tersebut tidak hadir , ketidakhadiran ini merupakan kedua kali nya dari undangan mediasi yang di layangkan.
Sehari berselang, Agus melaporkan kejadian ini ke Polda Jambi ( Jumat 16/01/2026) di temani kakak kandung nya Nasir ,Agus menjalani proses pemeriksaan selama 5 jam di SPKT Polda Jambi.
Beberapa hari kemudian,giliran seorang siswa berinisial (LF)di dampingi Kuasa Hukum dan keluarga melaporkan Guru ke Polda Jambi,Senin kemarin 19 Januari 2026,Kuasa Hukum LF, Dian Burlian Sembiring mengatakan langkah ini di ambil lantaran pihak Agus terkesan tidak ada niat baik untuk berdamai.
Kejadian saling lapor ke Polda Jambi ini di sayangkan beberapa kalangan, termasuk dari Persatuan Guru Republik Indonesia ( PGR) Provinsi Jambi , hal ini di ungkapkan Ketua umum PGRI Provinsi Jambi H.Nanang Sunarya M.Pd, saat di hubungi media ini ,Selasa 20/01/2026.
Nanang mengungkapkan seharusnya kejadian ini konflik antara guru dan siswa dapat terselesaikan dan mengedepankan jalur mediasi dengan tetap berlandaskan Equality.
“Sangat di sayangkan kejadian ini berbuntut pada aksi saling lapor ,seharusnya tetap mengedepankan media yang berlandaskan Equality” Ujar Nanang.
Nanang menambahkan,Perkembangan Dunia saat ini kehidupan tekhnologi semakin merajalela,informasi semakin terbuka,Percepatan tekhnologi dan komunikasi yang terjadi tidak di imbangi dengan Kontruksi penguatan nilai dasar kebudayaan dan filterisasi nilai yang menghancurkan tatanan kehidupan.
Di akui nanang, Belum semua guru siap untuk menjadi guru memiliki dimensi keterampilan mengelola pembelajaran secara kekinian searah dengan kemajuan tekhnologi
“Ditambah lagi siswa juga saat ini memiliki daya serap tontonan tanpa tuntunan melalui kontak sosial dunia Maya ” Ucap Nanang Sunarya. (red)
