Filosofi Umi dan Abi dalam Membingkai Power Rohani dan Jasmani Anak

Opini219 Dilihat

Oleh : Prof. Dr. Mukhtar Latif

Rangkumnews.com – A. Pendahuluan: Dialektika Dekapan dan Penjagaan
​Dalam ekosistem pertumbuhan anak, orang tua adalah arsitek pertama yang membentuk struktur jiwa dan raga. Secara filosofis, Umi dan Aba bukan sekadar sebutan biologis, melainkan representasi dari dua energi semesta. Sebagaimana disarikan dari pemikiran Fakhruddin Ar-Razi (n.d.) dalam Mafatih al-Ghaib mengenai dikotomi sifat Tuhan yang tercermin dalam penciptaan manusia:

“Al-Ummu hiya al-ihtidhanu wa al-lamsatu wa al-hananu alladhi yabni ar-ruha, bainama al-Abu huwa al-himayatu wa ar-ri’ayatu wa at-tandhimu alladhi yabni al-jasada wa al-quwwata.”

(Umi adalah dekapan, sentuhan, dan kasih sayang yang membangun ruh, sementara Aba adalah perlindungan, penjagaan, dan pengaturan yang membangun jasad dan kekuatan).

​Ungkapan ini menegaskan bahwa Umi adalah sumber Lathafah (kelembutan) dan Aba adalah sumber Quwwah (kekuatan). Sinergi ini krusial karena menurut Peterson (2021) dalam bukunya Beyond Order, seorang anak membutuhkan keteraturan (order) untuk tumbuh, namun keteraturan tersebut harus berakar dari rasa aman yang mendalam. Tanpa “Power Ruhani” dari Umi dan “Power Jasmani” dari Aba, anak akan kehilangan kompas moral dan ketangguhan fisik dalam menghadapi kompleksitas dunia modern.

B. Sentuhan Umi: Nutrisi Ruhani dan Fondasi Empati

​Umi adalah personifikasi dari dekapan yang meneduhkan. Secara ilmiah, sentuhan fisik ibu mentransmisikan ketenangan yang membangun struktur otak emosional anak. Brown (2021) dalam Atlas of the Heart menjelaskan bahwa koneksi manusia yang paling dasar bermula dari sentuhan seorang ibu yang menciptakan rasa memiliki. Dalam literatur klasik, Imam Al-Ghazali dalam Al-Ghazali (n.d.) melalui kitab Ihya’ Ulumuddin menyatakan bahwa kasih sayang kepada anak kecil adalah karakter utama orang-orang suci (asy-syafaqatu ‘ala ash-shaghiri min syiyami al-abrar).

​Belaian Umi bukan sekadar gerakan fisik, melainkan transmisi energi metafisika yang mengisi “Power Ruhani”. Zaki (2020) mempertegas dalam The War for Kindness bahwa empati yang dibangun melalui kehangatan ibu pada masa early childhood menjadi benteng bagi kesehatan mental anak di masa dewasa. Ruhani yang kuat lahir dari rasa diterima sepenuhnya di dalam dekapan Umi.

C. Otoritas Aba: Membingkai Disiplin dan Ketangguhan Jasmani

​Jika Umi membangun sisi internal, maka Aba adalah sosok yang menjaga, melindungi, dan mengatur sisi eksternal anak. Filosofi Aba adalah pengelolaan hidup. Thompson (2023) dalam bukunya The Roots of Moral Character menekankan bahwa keterlibatan ayah dalam menetapkan batasan (boundaries) sangat penting untuk mengembangkan disiplin diri pada anak. Hal ini sejalan dengan pandangan Shihab (2005) dalam Tafsir Al-Misbah mengenai fungsi qawwamah yang bermakna perlindungan aktif.

​Aba membingkai “Power Jasmani” dengan cara memastikan fisik anak terlindungi dan perilakunya teratur. Al-Bantani (n.d.) dalam kitab Uqud al-Lujain menyebutkan kewajiban ayah mendidik adab (ta’dibu auladihi) dan kewajiban agama. Sanders & Turner (2022) dalam The Power of Positive Parenting menambahkan bahwa pengasuhan yang memiliki struktur jelas (fungsi Aba) secara signifikan mencegah risiko kecemasan dan kerapuhan fisik pada anak.

D. Sinergi Power: Integrasi Jasad dan Ruh dalam Karakter Paripurna

​Kekuatan sejati anak lahir saat “dekapan” Umi bertemu dengan “pengaturan” Aba. Zigler & Jones (2021) dalam The Evolution of Childhood memaparkan bahwa karakter anak sangat bergantung pada keseimbangan antara dukungan emosional dan tuntutan tanggung jawab. Dalam Asy’ari (n.d.) melalui kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim, diingatkan bahwa penyucian hati (thuhuru al-qalbi) harus dibarengi dengan tindakan fisik yang terukur.

​Umi mengisi tangki cinta (Ruhani), sementara Aba memastikan tangki tersebut digunakan untuk menggerakkan raga secara produktif (Jasmani). Goleman (2022) menyebutkan bahwa performa luar biasa seseorang ditentukan oleh seberapa harmonis otak emosional dan otak rasionalnya bekerja, sebuah cerminan dari integrasi peran filosofis Umi dan Aba dalam rumah tangga.

E. Disintegrasi Pendidikan Aba dan Umi: Berefek Split Ruhaniyah dan Jasadiah

​Ketimpangan peran menciptakan fragmentasi identitas atau Split Personality. Jika Umi mendekap tanpa arah dan Aba mengatur tanpa rasa, anak akan tumbuh dalam kebingungan eksistensial. Dalam Ibn al-Hajj (n.d.) melalui kitab Al-Madkhal, ditegaskan bahwa jika orang tua berselisih dalam metode pendidikan, maka anak akan tersesat di antara keduanya (idha ikhtalafa al-abawani fi at-tarbiyati, fadhā’a al-waladu bainahuma).

​Disintegrasi ini melahirkan fenomena “anak yatim di tengah orang tua yang lengkap, mereka memiliki fisik yang tumbuh (Jasmani) namun jiwanya kering (Ruhani). Tanpa keselarasan, anak akan mengalami kesulitan mengintegrasikan nilai-nilai moral ke dalam tindakan nyata.

F. Integrasi Abi dan Umi: Jaminan Dasar Membingkai Karakter

​Integrasi adalah kunci keberlanjutan karakter anak. Ketika Umi dan Aba bekerja dalam satu visi pengasuhan, anak akan memiliki efikasi diri yang tinggi. Dalam Ibn al-Qayyim (n.d.) melalui kitab Tuhfat al-Maudud, ditegaskan bahwa kebaikan anak bergantung pada kebaikan kedua orang tua dan kesatuan mereka (shalahu al-waladi bi shalāhi al-waalidaini wa ittihādihima).

​Integrasi ini adalah jaminan bahwa ruh anak akan terbimbing oleh kasih sayang dan jasmani mereka akan kokoh oleh perlindungan. Pengasuhan yang terpadu menciptakan keseimbangan hormon oksitosin (kasih) dan dopamin (motivasi/prestasi), yang menjadi modal dasar bagi anak untuk menaklukkan tantangan zaman.

G. Penutup: Manifestasi Jamaliyah dan Jalaliyah

​Sebagai kesimpulan, filosofi Umi dan Aba adalah manifestasi sifat Tuhan, Jamal (Keindahan) dan Jalal (Keagungan), dalam lingkup mikro keluarga. Umi dengan belaiannya memberikan “akar” ruhani yang kuat, sedangkan Aba dengan perlindungannya memberikan “batang” jasmani yang kokoh. Sebagaimana pesan dalam Az-Zarnuji (n.d.) melalui Ta’lim al-Muta’allim, kesuksesan tidak akan tercapai tanpa pengaturan waktu dan kesungguhan (thandhim al-waqti wa al-juhdi). Sinergi ini memastikan anak tumbuh menjadi pribadi yang bercahaya jiwanya dan kuat raganya, siap menjadi khalifah di muka bumi.

​Referensi:
1. ​Al-Bantani, N. (n.d.). Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain.
2. Al-Ghazali, I. (n.d.). Ihya’ Ulumuddin.
3. Ar-Razi, F. (n.d.). Mafatih al-Ghaib (Tafsir al-Kabir).
4. Asy’ari, H. (n.d.). Adab al-Alim wa al-Muta’allim.
5. Az-Zarnuji, S. (n.d.). Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum.
6. Brown, B. (2021). Atlas of the Heart: Mapping Meaningful Connection. Penguin Books.
7. Goleman, D. (2022). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam Books.
8. ​Ibn al-Hajj, M. (n.d.). Al-Madkhal.
9. Ibn al-Qayyim, A. J. (n.d.). Tuhfat al-Maudud bi Ahkam al-Maulud.
10. Peterson, J. B. (2021). Beyond Order: 12 More Rules for Life. Allen Lane.
11. Sanders, M. R., & Turner, K. M. (2022). The Power of Positive Parenting. Oxford University Press.
12. ​Shihab, M. Q. (2005). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.
13. Thompson, R. A. (2023). The Roots of Moral Character: Development in Early Childhood. Oxford University Press.
14. ​Zaki, J. (2020). The War for Kindness: Building Empathy in a Fractured World. Broadway Books.
15. Zigler, E., & Jones, J. (2021). The Evolution of Childhood: Structure, Function, and Process. Cambridge University Press.

(red)