Dhamir : Integrasi IQ, EQ, dan SQ sebagai Fondasi Kesadaran Nurani dalam Kepemimpinan Pendidikan

Opini26 Dilihat

Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif

​Rangkumnews.com – A. Pendahuluan: Krisis Kemanusiaan di Ruang Kelas
​Tragedi kekerasan yang melibatkan guru dan murid di SMK Berbak, Tanjung Jabung Timur, bukanlah sebuah insiden yang berdiri sendiri dalam ruang hampa. Secara ontologis, peristiwa ini merupakan alarm keras atas “kematian” kesadaran nurani dalam ruang pendidikan kita. Ketika seorang pendidik membawa kekerasan ke dalam lingkungan sekolah, ada sebuah diskoneksi besar antara fungsi kognitif dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan yang selama ini terlalu mendewakan kecerdasan intelektual (IQ) terbukti gagal total jika tidak dibarengi dengan kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ).

​Ketimpangan ini menciptakan robot-robot, monster akademik yang memiliki pengetahuan tinggi namun kering secara empati. Puncak dari harmoni ketiga kecerdasan ini adalah lahirnya Dhamir, sebuah istilah yang merujuk pada “hati nurani” yang paling dalam, yang tidak hanya berfungsi sebagai pengingat, tetapi sebagai pusat kesadaran dan pusat kebenaran sejati yang menjadi fondasi bagi setiap tindakan manusia. Di tengah gempuran digitalisasi dan tekanan kerja guru yang semakin kompleks, menghidupkan Dhamir adalah urgensi yang tidak bisa ditunda, dan menjadi keniscayaan.

​B. Eksistensi Dhamir: Kompas Moral Pendidik
​Dalam diskursus kontemporer, Dhamir atau hati nurani dipandang sebagai fungsi psikis yang memiliki sifat absolut dalam kejujuran. Studi terbaru oleh Das & Gayen (2025) menekankan bahwa integrasi kecerdasan spiritual dalam pendidikan sangat krusial untuk membangun praktik reflektif. Tanpa refleksi, seorang guru akan terjebak dalam rutinitas mekanis yang mengabaikan aspek etis. IQ memang memberikan pengetahuan teknis tentang kurikulum, namun EQ-lah yang memungkinkan seorang guru meregulasi impuls amarahnya saat menghadapi provokasi murid (Andriansyah dkk., 2022).

​Lebih jauh lagi, SQ menawarkan kerangka makna yang memungkinkan pendidik menempatkan tindakan mereka sebagai bagian dari pengabdian transendental (Zohar, 2025). Ketika ketiga kecerdasan ini menyatu menjadi Dhamir, seorang guru akan memiliki “saringan internal”. Dalam kasus di Berbak, terjadi apa yang dalam neurosains disebut sebagai amygdala hijack—sebuah kondisi di mana otak primitif mengambil alih logika akibat tekanan emosional. Namun, bagi mereka yang nuraninya hidup, terdapat “ruang sakral” antara stimulus (tantangan murid) dan respon (reaksi guru). Di ruang inilah Dhamir bekerja sebagai pemandu menuju tindakan yang memanusiakan manusia (Goldsworthy, 2026).

​C. Urgensi Uji Kompetensi Emosional dan Spiritual
​Sudah saatnya sistem pendidikan kita bergeser dari sekadar evaluasi administratif menuju evaluasi substantif. Gagasan mengenai perlunya Uji Kecerdasan Emosional dan Spiritual bagi tenaga pendidik kini menjadi syarat mutlak bagi kesehatan ekosistem sekolah. Kompetensi pedagogik sehebat apa pun tidak akan berarti jika seorang guru tidak memiliki integritas etis dan tanggung jawab sosial (Ilyas dkk., 2025). Guru yang memiliki skor IQ tinggi namun EQ rendah cenderung menjadi otoriter dan rentan melakukan kekerasan verbal maupun fisik.

​Uji ini seharusnya tidak dilihat sebagai beban, melainkan sebagai bentuk perlindungan bagi guru itu sendiri. Dengan memetakan stabilitas psikologis secara berkala, institusi dapat memberikan intervensi yang tepat sebelum terjadi ledakan emosional di kelas. Kepemimpinan pendidikan berbasis Dhamir menuntut kemampuan de-eskalasi konflik yang hanya bisa lahir dari ketenangan batin. Hal ini sejalan dengan konsep “kepemimpinan yang berani” yang mengedepankan kerentanan dan empati sebagai kekuatan, bukan kelemahan (Della-Latta & Burkett, 2022).

​D. Strategi Membangun Dhamir di Dunia Pendidikan: Perspektif Kontemporer
​Membangun Dhamir tidak bisa dilakukan hanya melalui ceramah moral, melainkan melalui strategi sistemik yang terintegrasi. Berdasarkan teori kepemimpinan kontemporer, ada tiga pilar utama untuk menghidupkan kembali hati nurani di sekolah:

1. Penerapan Mindful Leadership dan Secure Base Coaching: Sekolah harus menjadi tempat yang aman (secure base) bagi guru dan murid. Strategi ini mengadopsi pemikiran Goldsworthy (2026) tentang pentingnya menciptakan rasa aman psikologis. Guru yang merasa didukung secara emosional oleh pimpinan sekolah akan lebih mudah mengakses Dhamir-nya saat berhadapan dengan murid yang bermasalah.

2. ​Kurikulum Berbasis Leadership for Flourishing: Pendidikan harus diarahkan untuk membantu individu “mekar” secara utuh. Crawford (2021) menjelaskan bahwa kepemimpinan yang fokus pada kesejahteraan (well-being) komunitas akan secara otomatis menumbuhkan kesadaran etis. Dalam konteks ini, setiap konflik di sekolah dijadikan momentum pembelajaran sosial-emosional, bukan sekadar objek hukuman.

3. Integrasi Humanistic Technology: Di era digital, otomatisasi seringkali menjauhkan interaksi manusia. Strategi pembangunan Dhamir menuntut penggunaan teknologi yang justru mempererat hubungan emosional, di mana guru tetap menjadi pilar utama dalam memberikan sentuhan spiritual yang tidak bisa digantikan oleh AI (Abidin dkk., 2024).

​Dengan strategi ini, Dhamir bukan lagi menjadi konsep abstrak, melainkan menjadi praktik sehari-hari yang mewujud dalam kebijakan sekolah, cara guru menyapa murid, hingga cara menyelesaikan perselisihan.

​E. Kesimpulan: Menuju Transformasi Kesadaran
​Pendidikan nasional kita sedang berada di persimpangan jalan. Kasus pertumpahan darah di SMK Berbak harus menjadi titik balik untuk melakukan transformasi kesadaran secara total. Menghidupkan kembali Dhamir adalah satu-satunya jalan berkelanjutan untuk memutus rantai kekerasan di sekolah. Kita membutuhkan guru-guru yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kematangan emosional.

​Sebagaimana ditekankan dalam teori Leverage Leadership terbaru (Bambrick-Santoyo, 2026), keberhasilan sebuah sekolah tidak diukur dari nilai ujian semata, tetapi dari karakter dan budaya yang dibangun di dalamnya. Seorang pendidik dengan Dhamir yang aktif akan menjadi pelita bagi murid-muridnya. Mereka tidak akan tersesat dalam amarah, karena setiap langkahnya dipandu oleh cahaya kebenaran yang bersumber dari hati yang paling dalam. Penyelarasan IQ, EQ, dan SQ melalui Dhamir adalah kunci pendidikan manusia seutuhnya di abad ke-21.

​Referensi:
1. ​Abidin, Z., Sulaiman, F., & Fauzi, H. (2024). Humanistic Approach in Islamic Education: Building Emotional and Spiritual Intelligence in the Digital Age. Journal of Islamic Education Research, 1(1).
2. Andriansyah, E. H., Rafsanjani, M., & Priastuti, D. (2022). The Importance of Emotional, Spiritual Intelligence, and Self-Efficacy on the Principal’s Performance. Jurnal Kependidikan, 8(4), 922-930.
3. Bambrick-Santoyo, P. (2026). Leverage Leadership 2.0: A Practical Guide to Building Exceptional Schools. San Francisco: Jossey-Bass.
4. Crawford, M. (2021). Leadership for Flourishing in Educational Contexts. Journal of Teaching and Learning, 10(1).
5. Das, D., & Gayen, T. K. (2025). Integrating Spiritual Intelligence in School Education: A Literature Review. London: British Records Association Archives.
6. Della-Latta, J., & Burkett, K. (2022). Courageous Leadership and Student Experience: Fostering Learning Conditions. Ontario: Queen’s University Press.
7..Goldsworthy, S. (2026). Care, Dare, Share: The Secure Base Coach for Organizations and Schools. Lausanne: IMD Publishing.
8. ​Ilyas, S., Abid, G., & Ashfaq, F. (2025). Ethical Leadership in Sustainable Organizations: The Role of Self-Efficacy and Trust. Sustainable Production and Consumption, 22, 195-204.
9. Kanbur, O., & Kirikkaleli, N. (2023). Interaction Between Teachers’ Emotional Intelligence and Classroom Management. Perspectives in Education, 41(2), 3-15.
10. Zohar, D. (2025). Need of Emotional and Spiritual Intelligence in Education. New York: Best Publishing House.

(red)