Ketika Ruang Kelas Jadi Ring Tinju : Guru vs Siswa di Berbak

Opini205 Dilihat

(Indikasi Kumuhnya Persemaian Karakter Pendidikan)

Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd (Pakar Pendidikan UIN STS Jambi)

​Rangkumnews.com –

A. Pendahuluan
​Dunia pendidikan di Provinsi Jambi mendadak riuh akibat insiden memprihatinkan yang terjadi di sebuah sekolah menengah di Kecamatan Berbak. Kejadian ini bermula dari hal yang nampaknya sepele, upaya pendisiplinan. Berdasarkan laporan yang viral, peristiwa dipicu ketika seorang guru memberikan teguran atau tindakan disiplin terhadap seorang siswa yang dianggap melanggar aturan sekolah. Namun, bukannya menerima dengan lapang dada, siswa tersebut justru merespons dengan agresi fisik. Situasi memanas hingga terjadi baku hantam yang terekam dan menjadi konsumsi publik. Guru, yang seharusnya menjadi personifikasi wibawa, terpaksa terlibat dalam kontak fisik defensif maupun ofensif, sementara siswa kehilangan sama sekali sekat rasa hormat (adab) kepada pendidiknya.

​Tragedi Berbak ini bukan sekadar urusan “adu otot” antara dua individu, melainkan sebuah simtom dari penyakit kronis yang lebih besar: degradasi karakter atau “kekumuhan” moral atau akhlak di ruang pendidikan. Saat ruang kelas yang seharusnya menjadi laboratorium peradaban berubah menjadi ring tinju, kita harus berani mengakui adanya kegagalan sistemik dalam transfer nilai. Fenomena ini mencerminkan kondisi di mana otoritas guru tidak lagi berbasis kewibawaan intelektual-spiritual, dan emosi siswa tidak lagi terwadahi dalam dialektika yang sehat. Kita terjebak dalam beban kurikulum yang padat konten namun gersang etika akhlak jauh dari bingkai karakter, pendidikan hanya membingkai generasi yang cerdas secara kognitif, namun rapuh secara mental dan miskin karakter atau akhlak.

​B. Konsep Kecerdasan Pendidikan Karakter
​Secara teoretis, konflik kekerasan di sekolah sering kali berakar pada kegagalan Social Emotional Learning (SEL). Menurut (Durlak, 2020), tanpa keterampilan emosional yang matang, guru cenderung merespons tantangan disiplin dengan agresi karena tekanan stres (burnout), sementara siswa melihat otoritas sebagai ancaman terhadap ego mereka. Dalam perspektif psikologi perkembangan modern, (Siegel, 2021) menekankan pentingnya neurobiology of interpersonal relations, di mana kegagalan regulasi diri pada remaja sering kali dipicu oleh ketidakmampuan otak prefrontal untuk mengendalikan amigdala saat merasa terpojok.

​Selain itu, konsep Restorative Justice dalam pendidikan (Zehr, 2023) menjelaskan bahwa kekerasan adalah tanda rusaknya koneksi antarmanusia. Jika sekolah hanya mengandalkan hukuman tanpa membangun relasi, maka resistensi siswa akan selalu muncul. Dari sudut pandang karakter, (Duckworth, 2021) mengingatkan bahwa ketangguhan mental (grit) bukan hanya soal kerja keras, tapi juga pengendalian diri (self-control) yang menjadi fondasi utama agar seseorang tidak meledak saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.

​C. Analisis Psikologi dan Karakter
​Mengapa karakter pendidikan kita terasa “kumuh”? Secara psikologis, kita sedang menghadapi fenomena emotional dysregulation massal. (Jennings, 2022) berpendapat bahwa lingkungan sekolah yang toksik dan penuh tekanan administratif membuat guru kehilangan “ruang sabar”, sehingga respon terhadap kenakalan siswa menjadi tidak proporsional. Di sisi lain, siswa era digital terpapar pada budaya instan yang memuja eksistensi diri secara berlebihan, sehingga teguran guru dianggap sebagai pembunuhan karakter atau penghinaan pribadi.

​Dalam perspektif Islam, fenomena ini adalah indikasi hilangnya “Adab” sebelum “Ilmu”. Pendidikan Islam menekankan bahwa seorang murid wajib memuliakan guru sebagaimana pesan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Namun, dalam konteks modern, nilai ini luntur. (Noddings, 2020) menyebutkan bahwa tanpa ethic of care (etika kepedulian), pendidikan hanya akan menjadi transaksi mekanis. Dalam Islam, akhlak bukan sekadar sopan santun, melainkan manifestasi iman. Perkelahian di Berbak menunjukkan bahwa nilai-nilai sabar (patience), hilm (pengendalian diri), dan tawadhu (rendah hati) belum terinternalisasi dalam kurikulum kehidupan di sekolah. Karakter yang “kumuh” terjadi ketika sekolah hanya mengejar angka-angka akademik tetapi membiarkan jiwa-jiwa di dalamnya gersang dari sentuhan spiritualitas dan keteladanan (uswah hasanah).

​D. Solusi Cerdas dan Strategis
​Untuk membersihkan kekumuhan karakter ini, diperlukan pendekatan holistik. Pertama, sekolah harus bertransformasi menjadi Trauma-Informed Schools (Craig, 2021). Guru perlu dibekali teknik regulasi diri agar tidak mudah terpancing provokasi. Strategi Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) bagi pendidik sangat krusial agar mereka tetap tenang di bawah tekanan (Goleman, 2022).

​Kedua, integrasi akhlak harus dilakukan secara organik, bukan sekadar hafalan teori budi pekerti. Program penguatan karakter harus menyentuh aspek kognitif, afrktif, emosional, dan perilaku secara sinkron (Reeves, 2023). Ketiga, keterlibatan orang tua adalah mutlak. (Siegel, 2021) menegaskan bahwa kehadiran emosional orang tua di rumah (parenting) sangat menentukan, bagaimana anak bereaksi terhadap otoritas di lingkungan dan sekolah. Dalam bahasa agama, sinergi antara madrasah pertama (rumah) dan sekolah adalah kunci untuk membangun benteng akhlak yang kokoh.

​E. Penutup
​Insiden di Berbak adalah alarm keras. Pendidikan karakter tidak bisa lagi hanya menjadi jargon dekoratif di atas kertas RPP atau spanduk sekolah. Ia harus mewujud dalam setiap tarikan napas interaksi antara guru dan murid. Perkelahian tersebut adalah cermin retak bagi kita semua, pendidik, orang tua, dan masyarakat. Jika kita membiarkan kekerasan menjadi bahasa komunikasi di lembaga pendidikan, maka kita sebenarnya sedang merobohkan fondasi peradaban masa depan. Dibutuhkan revolusi mental yang berbasis pada kehangatan emosional dan keluhuran akhlak Islam untuk mengembalikan sekolah sebagai taman yang suci, tempat persemaian di mana manusia dimanusiakan, bukan tempat di mana amarah dipamerkan.

​Referensi:
1. Craig, S. E. (2021). Trauma-Sensitive Schools: Learning Communities Transforming Children’s Lives. New York: Teachers College Press.
2. Duckworth, A. (2021). Grit: The Power of Passion and Perseverance (Updated Edition). New York: Scribner.
3. Durlak, J. A. (2020). Handbook of Social and Emotional Learning: Research and Practice. New York: Guilford Press.
4. ​Goleman, D. (2022). Emotional Intelligence in the Workplace and Education. Boston: Harvard Business Review Press.
5. Jennings, P. A. (2022). Teacher Burnout Turnaround: Strategies for Mindfulness and Resilience. New York: W. W. Norton & Company.
6. ​Noddings, N. (2020). The Challenge to Care in Schools: An Alternative Approach to Education. New York: Teachers College Press.
7. ​Reeves, D. (2023). Building Character in Schools: Strategies for Success. Alexandria: ASCD.
8. Siegel, D. J., & Bryson, T. P. (2021). The Power of Showing Up: How Parental Presence Shapes Who Our Kids Become. New York: Ballantine Books.
9. ​Willingham, D. T. (2021). Why Don’t Students Like School?: A Cognitive Scientist Answers Questions About How the Mind Works. San Francisco: Jossey-Bass.
10. ​Zehr, H. (2023). The Little Book of Restorative Justice in Education: Fostering Responsibility, Healing, and Hope in Schools. New York: Good Books.

(red)